
Harga akses internet sekarang ini mengalami kenaikan dibanding dengan setahun yang lalu, XL misalnya dulu jaman XL Corporate harga internet unlimited seharga 350.000, namun untuk user ada yang dijual kurang dari 300.000, setelah itu harga koneksi naik drastis dengan sistem kuota, dulu saya pernah langganan pake Mega Data seharga 99.000 dengan kuota 250 MB, cukup mahal memang. Akhirnya muncul koneksi internet unlimited seharga Rp 100.000an yang dipelopori oleh Indosat dan Telkomsel kemudian menyusul XL, namun dalam selular basis GSM kini ada kecenderungan naik dan ini sudah terbukti sekarang. Nah pertanyaan ini yang membuat pelanggan bingung, apakah pelanggan mempunyai faktor penurunan harga koneksi ? Jawabannya : Iya … ini khan ngomongin network, tentu saja faktor dari pelanggan or user tetap punya pengaruh harga koneksi, aktifitas pelanggan itu yang menentukan harga koneksi. Kita sebagai pelanggan memang bebas melakukan aktifitas koneksi internet sepanjang masih membayar, perkara dipecat dengan tidak hormat oleh operator itu soal lain.
Faktor yang tak kalah penting adalah requesting web ditaruh dimana, ini juga merupakan faktor penting, kita nggak bisa asal kritik sebuah ISP kenapa menaikan harga koneksi secara tiba-tiba seperti kasus Telkomsel, user juga punya andil perubahan peraturan dari Telkomsel, di sini pelanggan cuma berpikir dan bertindak : Bayar ! Urusan selesai ! Koneksi internet itu ibarat kita mengirim surat ke luar negeri yang bayar pasti kita. Sekarang ini yang kita tahu harga koneksi internasional turun tetapi kenapa harga koneksi tidak turun-turun. What wrong ? Ini kudu kita cermati dengan bijak, menyalahkan ISP yang dicap jual mahal bukan menyelesaikan masalah. Karena mereka khan juwal, kita yang beli, kalo nggak suka sama ISP itu ya nggak usah make, cari ISP lain yang lebih murah.
Perusahaan sekarang ini juga gengsi jika mempunyai web ditaruh di lokal. Padahal menaruh web di lokal justru lebih menguntungkan karena aksesnya lebih cepat dan gampang dimanage. Aktifitas internet khan urusannya dengan file, file-file yang membangun web itu ditaruh di server hosting, server hosting yang disewa itu menentukan harga koneksi, jika web yang dikelola perusahaan Indonesia jika meletakan web di server hosting Amerika atau Eropa akan merugikan harga bandwidth, karena akses akan menjadi mahal.
Misalnya saya ingin membangun portal yang khusus dalam LAN sendiri dan diakses oleh orang kantor saja, maka saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk internet dan koneksi, tidak perlu sewa hosting, cukup bikin portal dalam LAN sehingga harga bisa ditekan seminimalnya mungkin. Hanya membutuhkan server lokal saja dalam gedung kantor. Demikian pula untuk skala Indonesia mustinya hal ini bisa diaplikasikan dalam lokal Indonesia. Anda ngakses web luar negeri itu bayar je, yang bayar khan ISP lewat biaya pulsa atau bulanan anda. Ini bisa diibaratkan dengan telepon lokal dengan interlokal, karena pada dasarnya telepon sama data nggak ada bedanya, yang membedakan hanya pengubahan sinyal dari analog ke digital.
Selama requesting web diparkir di luar negeri harga koneksi internet akan susah turun, jadi ini ada kerja sama antara user, pemilik web dan ISP, serta pemerintah. Pemerintah pun juga bisa mendesak pemilik web seperti facebook, Yahoo, Google untuk memarking sub domain webnya di Indonesia sehingga akses internet di Indonesia bisa turun. Aktifitas pelanggan memang kebanyakan ke luar negeri, jika hal ini bisa diminimalisir maka harga koneksi akan cepat turun. Jadi kudu bikin semacam web yang lokalan, storage online lokalan, apalagi aktifitas internet yang terbanyak justru malah download yang sialnya server hostingnya di luar negeri dan membuat harga koneksi menjadi semakin mahal.












Tidak ada komentar:
Posting Komentar