
Beberapa tahun yang lalu keberadaan ISP ( Internet Service Provider ) merupakan tulang punggung koneksi internet di negeri kacrut ini. Tarif yang dipatok terasa sangat mahal bagi semua kalangan, entah dari bawah sampai atas, koneksi yang digunakan waktu itu adalah menggunakan koneksi perkabelan bukan wireless yang kebanyakan sekarang ini membanjiri berbagai belahan kota Indonesia. Ada yang membangun jaringan kabel sendiri, ada pula yang bekerja sama dengan Telkom untuk “sekedar” numpang lewat. Seiring dengen perkembangan jaman, maka ISP mulai melirik dunia kabel optik yang lebih cepat dan stabil dibanding dengan koneksi menggunakan kabel tembaga milik Telkom yang sering kali mengalami masalah, jangankan buat internet, untuk cuap-cuap saja masih sering tulalit. Dari kabel tembaga kemudian beralih ke kabel optik dan akhirnya menggunakan jalur wireless alias tanpa kabel. Hal ini terus berkembang dengan bermunculan ISP yang sebenarnya merupakan operator selular, untuk urusan internet ( data ) menjadi divisi tersendiri, dari CDMA dan GSM ramai-ramai menjual koneksi dengan alasan yang cukup simple ; mencari keuntungan, namun koneksi anak tiri dari operator telepo ini juga tidak semulus dibayangkan.
Pertama yang jadi masalah adalah sempitnya frekwensi yang dipakai, jangan membayangkan bahwa angkasa atau langit itu luas lalu koneksi tanpa kabel menjadi luas tanpa batas, koneksi menggunakan wireless tetap menggunakan jalur gelombang frekwensi tertentu yang kemungkinan terjadi interferensi besar sekali, koneksi menggunakan kabel lebih tidak mengalam keterbatasan dibanding dengan wireless karena hanya menambah kabel maka koneksi bisa diperluas. Saat inipun koneksi tercepat tetap menggunakan jalur kabel, sedang jalur wireless masih dalam tahap pengembangan, sejak munculnya Circuit Switcth Data, GPRS, Edge, 3G, W-CDM, HSDPA dan 4G ( Wimax ).
Kini operator selular rame-rame menjual produk internet dengan tarif yang “murah”, sengaja kata murah diberi tanda kutip dengan alasan tidak semua orang bisa mengatakan murah, koneksi yang dikatakan murah ini sering kali tidak menjamin koneksi berjalan normal karena semua operator selalu mengacu pada up to, kecepatan tertinggi bukan menggunakan acuan kecepatan terendah. Point inilah yang membuat operator berani menjual koneksi murah walau dalam kenyataannya hancur-hancuran di tengah jalan dan ditinggalkan pelanggannya.
Walau banyak masalah terjadi namun layanan internet dari operator selular ini selalu dilirik kalangan netter, alasannya yang klise adalah ya karena murah itu. Saking murahnya konsumen menjadi lupa bahwa mereka semua kudu tunduk pada peraturan up to. Apalagi operator GSM dan CDMA dalam urusan data merupakan perhatian terakhir, karena keuntungan operator selular tak lain adalah urusan mulut dan sms, data menjadi anak tiri operator GSM. Namun saya tidak mengatakan bahwa koneksi dari operator selular itu jelek, karena menganut hukum wireless, koneksi hanya terjadi jika hukum wireless dipenuhi : posisi menentukan prestasi
Nah pertanyaan yang paling krusial adalah mana yang anda pilih, CDMA atau GSM, ini pilihan yang rumit karena persoalannya bukan cuma harga koneksi namun juga kendala modem yang harganya mencekik kantong anda, walaupun ada modem murah, namun modem abal-abal seperti itu kurang direkomendasikan. CDMA sering sekarang masih juga terpaku pada koneksi CDMA 2000 1x yang masih berpatok pada speed maksimal 153,6 kbps, di jaman serba animasi flash ini koneksi seperti itu akan menjadi ujian kesabaran, namanya manusia selalu ingin yang terbaik walaupun dengan tarif murah sekalipun.
Saya tidak membahas masalah EVDO karena jaringan ini terbatas, hanya area-area tertentu sehingga saya terpaksa menganggap masih CDMA 2000 1x. Dengan speed 153,6 kbps menurut saya pribadi cukup jika hanya digunakan untuk browsing, dan anda pun cukup mengeluarkan biaya murah, dari Mobi unlimited sebulan cuma 50.000 dan Flexi juga perbulan 50.000, demikian pula dengan Smart. Bahkan satu dua operator masih memberlakukan tarif harian seperti Flexi unlimited yang per harinya cuma Rp 2500 dengan maa berlaku 24 jam. Kebanyakan operator CDMA membundle layanan unlimited dengan menggunakan prabayar bukan dengan jalan ngutang menjadi paska bayar. Sayang tidak semua operator seragam menggunakan frekwensi sama, Smart merupakan operator yang tidak memakai jalur frekwensi 800 MHz melainkan 1900 MHz sehingga jangkauannya tidak begitu jauh dibanding dengan CDMA lain. Internet CDMA memang belum sempurna, masih sana sini gagal membuka web site tertentu, halaman web kacau, terutama di facebook, update status anda dan teman anda akan kacau, entah itu koneksi atau facebook yang bermasalah, jika facebook bermasalah pastinya akan ada berita atau laporan. Demikian pula untuk download, CDMA sering mengalami putus ditengah jalan, namun hal ini bisa diakali dengan Download Manager yang bisa meresum download sehingga ketika koneksi terputus maka akan bisa diteruskan lagi.
Internet lewat CDMA masih perlu pembenahan dalam manajemen bandwidth, sistem kompresi dan tunneling agar mendapatkan kestabilan koneksi sehingga koneksi lebih baik, serta penghapusan cache. Cache dari operator ini kadang didelete seminggu sekali, sehingga kadang anda update status, ketika di buka besok hari update status anda malah 2 hari yang lalu. Atau anda mengganti header blog anda maka yang muncul justru malah header yang lama. Namun akses internet dari CDMA patut diacungi jempol karena menjual harga sangat murah dan justru memakai pra bayar, jika anda tak suka silakan buang kartu tersebut. Lagian koneksi menggunakan CDMA tidak ada sistem kuota-kuotaan, artinya anda bebas menggunakan koneksi tersebut sesuka anda. Namun jangan berharap banyak, karena koneksi berharga murah pastilah tidak menjamin bagusnya koneksi.
Bagaimana dengan GSM ? Ngomongin GSM yang akan saya sebut cuma Telkomsel Flash, IM2 dan XL, Indosat 3G sendiri masih dikategorikan dari Broom IM2 karena menggunakan bandwidth yang sama, Satelindo itu operator selular sedang urusan bandiwdth menjadi tanggung jawab IM2. Jadi Satelindo hanya minjam bandwidth atau sebaliknya IM2 yang minjam jalur Satelindo.
GSM selalu menggunakan sistem Paska bayar, hanya IM2 yang menggunakan pra bayar tapi harga kartu perdananya minta ampun bahkan ada yang menjual sampai 750.000, tidak sebanding dengan harga kartu perdana internet CDMA. Telkomsel masih setia untuk pengguna paska bayar artinya anda kudu ngutang operator jika hendak make koneksi internet. Masalah yang paling krusial dari internet GSM adalah masalah kuota, tidak seperti CDMA yang tidak membatasi kuota. Namun menggunakan layanan GSM ini agak susah juga karena kudu mendaftar ke kantornya, memang ada pula yang menggunakan sistem reseller dengan nama Corporate Unlimited, namun hal ini juga membuat harga semakin membengkak. Internet GSM juga tidak pernah lepas dari masalah koneksi, sekali jebol maka akan sembuh lama, tidak seperti CDMA yang cepat pulih, masalah Indosat dulu selesainya dalam waktu lama, demikian masalah Telkomsel yang mungkin sampai hari ini berlarut-larut. GSM sering mendapatkan kecaman dalam koneksi internet karena menggunakan sistem paska bayar, berbeda dengan CDMA, kalo orang tidak suka tinggal campakan, namun untuk GSM seperti Telkomsel menggunakan sistem paska bayar biasanya lapor ke kantornya minta berhenti, namun tak sedikit pula yang langsung mandeg dengan alasan jengkel dan merasa dikecewakan.
Dari segi kecepatan GSM memang lebih baik karena jaringannya sangat luas, namun dari segi kestabilan tetap sama saja dengan CDMA karena wireless masih menganut paham : posisi menentukan prestasi. Semua kembali ke hukum tersebut, hukum tersebut kudu dipenuhi, saya mengatakan posisi menentukan prestasi, bukan sinyal menentukan prestasi, sinyal penuh pun tidak menjamin anda bisa berkoneksi dengan baik, karena sinyal itu hanya penanda ada jalan, sedang jalan itu apakah penuh atau tidak, kalo penuh ya sudah anda tidak akan bisa terkoneksi. Jadi jangan hanya beranggapan sinyal penuh terus menganggap itu segalanya. Internet itu ibarat mobil dengan jalan, keduanya kudu saling sinkron dan jalan kudu lebih lebar dari mobil. Itupun masih juga dilihat bagaimana web yang diletakan di mana dan bagaimana kondisi networknya. Sebuah koneksi internet itu sebenarnya terdiri atas 2 buah network atau lebih saat user mengakses halaman web :
Network pertama adalah lokasi file, karena pada dasarnya web juga sebuah file yang dibangun pada hosting, artinya posisi letak file-file tersebut ditempatkan, entah dia diletakkan dalam posisi dalam satu kontinen ataukah di luar konetinen, kalo dalam satu kontinen maka aksesnya lokal dan lebih cepat, kalo aksesnya di luar lokal maka membutuhkan beberapa network lainyang saling menghubungkan sehingga akses semakin lama. Jadi penggunaan akses internet juga mempengaruhi kualitas koneksi dan tidak disamaratakan, semua kembali ke user masing-masing.
Jika saya dipaksa memilih mana koneksi yang menjadi kebutuhan, terus saya pasti akan memilih GSM, alasannya jangkauannya lebih luas dibanding CDMA lagian GSM sudah bisa mencapai kecepatan di atas 1 mbps dibanding CDMA yang non EVDO masih berkutat pada CDMA 2000 1x, namun pemilihan tersebut juga tidak menghalangi pilihan saya memakai CDMA karea hukum posisi menentukan prestasi.
Kemudian sampai hari ini belum ada modem yang bisa digunakan untuk dua operator silang, maksudnya bisa menggunakan CDMA dan GSM sekaligus, dual band yang ada hanya dalam satu jenis, kalo GSM ya dengan GSM yang beda frekwensi, demikian pula dengan modem CDMA. Kalo nggak 1900 MHz ya 800 MHz.
Pikirkan bijak pilihan anda …












Tidak ada komentar:
Posting Komentar